ALCOHOLICS ANONYMOUSINDONESIA
Matahari terbit keemasan atas lanskap tenang — sebuah awal baru
Pengalaman bersama

"Kupikir aku bisa berhenti kapan saja"

Made, 3 tahun berhenti minum  ·  4 menit baca

Aku tumbuh besar di Ubud. Keluargaku membuat persembahan setiap pagi; aku dibesarkan untuk percaya pada keseimbangan — keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun selama dua belas tahun, setiap malam berakhir dengan cara yang sama: di warung, lalu di rumah teman, lalu di tempat yang kadang tidak bisa kuingat keesokan harinya.

Awalnya bukan masalah. Awalnya hanya persahabatan. Bintang dingin setelah seharian memandu wisatawan di sawah. Lalu dua botol. Lalu satu malam penuh.

Di Bali, minum adalah bagian dari pergaulan. Diterima. Merayap masuk tanpa disadari. Aku bilang pada diri sendiri bahwa aku bisa berhenti kapan saja. Aku mengucapkannya berkali-kali sampai percaya. Aku pernah mencoba berhenti tujuh atau delapan kali. Yang terlama sebelas hari. Aku mencatatnya di balik struk belanja, seperti anak kecil menghitung hari.

Yang akhirnya mengubah semuanya bukan kejadian dramatis. Itu terjadi pada hari Selasa biasa. Adikku menatapku dan aku bisa melihat ia ketakutan — bukan marah, tapi takut. Tatapan itu membekas selama tiga hari.

Aku mendengar tentang AA dari seorang teman yang sudah setahun berhenti minum. Aku tidak percaya itu akan berhasil. Aku pergi ke pertemuan pada Senin malam di gedung di Seminyak, sebagian besar untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa aku tidak membutuhkannya.

Aku duduk di belakang. Seorang pria yang belum pernah kukenal bercerita tentang menyembunyikan botol di mobilnya agar istrinya tidak menemukan. Aku pernah melakukan hal yang persis sama. Detail kecil itu — menyembunyikan botol di mobil — membuka sesuatu dalam diriku.

Aku tidak berbicara di pertemuan pertama itu. Juga tidak di pertemuan kedua. Tapi aku terus datang. Sponsorku, seorang pria Jawa bernama Hendra, tidak pernah memberitahuku apa yang harus dilakukan. Ia hanya bertanya dan mendengarkan.

Tiga tahun berlalu, aku masih hadir di pertemuan Senin. Adikku berkunjung bulan lalu. Kami menonton sepak bola, makan nasi goreng, dan ia tertidur di sofaku pukul 10 malam seolah tidak ada yang istimewa — seolah itu hal biasa. Itulah pemulihan: kembalinya hal-hal biasa, satu per satu.

Siap mengambil langkah pertama?

Telepon saluran bantuan atau datang ke pertemuan mana saja. Gratis, anonim, tanpa komitmen.

Telepon saluran bantuanWhatsApp Sesama
Berikutnya
"Pagi saat aku menelepon saluran bantuan"